Perihal yang berjejal dalam Manuskrip Sepi

August 19, 2015 § Leave a comment

20150819_182902_Richtone(HDR)

Judul      : Manuskrip Sepi
Penulis   : Nissa Rengganis
Penerbit : Gambang Budaya
Cetakan : I, Juli 2015
Tebal      : vi + 85 hlm
ISBN       : 978-602-72761-3-0

ulasan untuk buku Manuskrip Sepi

Dalam dunia di mana batas tidak lagi mengenal tapal, rangkaian peristiwa yang berlalu-lalang dapat seketika mengejar lalu tertinggal. Berita lahir dan luruh dalam gelanggang untuk kemudian merangkak hingga tiba di tengah riuhnya manusia. Hadirnya berita adalah sebuah titik dari siklus kehidupan berita itu sendiri. Manusia, yang memahami berita sebagai informasi, secara sadar atau tidak akan mengambil laku atas informasi tersebut. Secara resiprokal, informasi membuat konstruksi bagi tindakan manusia untuk bergerak melahirkan peristiwa-peristiwa baru.

Sebagian manusia bersikap acuh terhadap gugus peristiwa meski mereka berada di antaranya. Peristiwa, barangkali, terlalu lekat dengan kehidupan sang manusia, sehingga manusia memandang dirinya berperan hanya sebagai pelaku. Mereka berada dalam ekosistem peristiwa. Pada kondisi tersebut, mereka tidak sadar (atau tidak ingin) memosisikan diri berada di luar ekosistem tersebut. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Widyaputri-Nirwikara

June 19, 2015 § Leave a comment

sebuah cerita tentang secarik foto

PhotoGrid_1434720964511

Tiap beberapa detik, mata kukatupkan perlahan, lalu aku buka lagi. Aku nikmati pergeseran dari cahaya, lalu gulita, lalu cahaya lagi. Berulang-ulang, aku menikmatinya. Aku masih takjub akan warna-warna yang berdansa di lantai cahaya. Mereka memecah materi menjadi benda-benda. Bagaimana menjelaskan soal dansa yang mengakibatkan pertemuan, sekaligus perpisahan? Entah, Aku takjub, aku kagum, aku pun terus menggamiti apa yang fana. Tanganku terus menggepit sehelai kertas yang menjuntai. Seutas tali menahan kertas agar ia tak lunglai. Meski begitu, gamitanku tidak melulu berhasil. Kadang kertas lolos, lalu menari seperi marionette dengan temalinya. Aku pun menunggu ia tenang, lalu aku gamit kembali.

« Read the rest of this entry »

Sisi –Sisi Tuhan

June 12, 2015 § Leave a comment

20150612_073030_Richtone(HDR)

-sebuah resensi atas buku Iblis Menggugat Tuhan-

Tuhan yang imanen adalah Tuhan yang berperan dalam kehidupan manusia. Tuhan ikut campur mempengaruhi proses hidup manusia selaras dalam membentuk ciri. Sisi-sisi ketuhanan ini lalu jamak dikenal dan dijabarkan dalam butiran sifat yang halus, baik, serta penuh kasih. Tuhan menjadi mata kutub tempat kebaikan manusia berumah. Induk dari segala perangai yang indah.

Kutub yang lain adalah milik Iblis, mereka yang terusir dari kediaman surga setelah menjadi makhluk yang dianggap tidak taat kepada Tuhannya. Manusia menerjemahkan perihal kejahatan adalah bagian dari peran iblis dengan menggelincirkan manusia. Inkonsistensi yang muncul adalah, Iblis yang kemudian berkata “dengan seizin-Mu(merujuk kepada Tuhan) akan kusesatkan pula mereka”. Jika Tuhan adalah hulu dari segala kebaikan, bagaimana bisa Iblis menggunakan izin Tuhan untuk menanamkan kejahatan? Apakah kebaikan dan kejahatan berhulu pada sebuah asal yang sama?

Buku Iblis menggugat Tuhan memiliki dua cerita: The Madness of God (Kegilaan Tuhan) dan The Man Who Have The Elephant (Sang Pria yang memiliki Gajah). The Madness Of God memaparkan tentang dialog-dialog antara Pendeta Buhairah dengan seseorang pemuda kaum Marcionites serta Iblis. Sedangkan The Man Who Have Elephant menceritakan ihwal dialog antara Raja Abrahah dengan Siraaj sebelum tentara gajahnya menyerang Makkah. « Read the rest of this entry »

Sati, Jihad, dan Mereka yang Mendatangi Kematian

May 10, 2015 § 2 Comments

sebuah tanya tentang kematian (2)

Meskipun suaminya telah tiada, Dewi Aggraini tetap bergeming terhadap rayuan Arjuna. Ia lebih memilih melakukan bela pati, mengakhiri nyawanya sendiri daripada menjadi istri Sang Lelananging Jagad. Anggraini mengikrarkan cintanya hanya kepada Ekalaya. Cinta yang membawanya tumpas dalam janji sehidup semati berbalut kesetiaan kepada Ekalaya.

Apa yang ada di pikiran Dewi Anggraini tatkala memutuskan untuk menemui maut yang diciptakannya sendiri? Ketakutan tak terperi yang mungkin muncul dalam dirinya yang kebas? Ataukah ketenangan yang murni karena harapan apapun sudah menjadi ampas dalam kehidupannya.

Baltazard Solvyns, seorang pelukis yang bertualang di India, menyaksikan sendiri bagaimana laku seorang istri yang dikremasi bersama jenazah sang suami. Sang istri, melakukan sumpah untuk terjun ke dalam bara yang memanggang lantak tubuh sang suami. Sebelumnya, Sang Istri mandi dan membersihkan diri, lalu menyolek diri serta mengenakan pakaian yang baru dan indah. Setelah itu, dia membagi-bagikan perhiasan yang dikenakannya kepada pendeta serta keluarganya yang menyaksikan prosesi tersebut.

Sang Istri lalu diyakinkan ihwal kenikmatan yang akan ia rasakan di balik “pengorbanannya”, sebuah kebahagiaan hakiki yang telah menanti setelah menyibak tirai kematian itu. Pendeta pun akhirnya mengantar sang istri dalam titian perjalanan luhurnya untuk ikut berbaring di sebelah jenazah sang suami. Mereka pun kemudian dibakar, takluk dalam nyala api, dan suara sang Istri merapal “satya!satya!satya!” perlahan lenyap.

lukisan yang dibuat oleh Solvyns ihwal sati yang Ia saksikan

« Read the rest of this entry »

Universitas sebagai Pasar Ilmu yang Tak Pernah Tutup

May 6, 2015 § Leave a comment

gambar diambil dari http://www.libraries.psu.edu

Ini adalah sebuah pagi, ilmu-ilmu mulai terbit bersama dengan matahari. Manusia mulai bangun dan berkelahi dengan sengitnya nasib. Ia mempertaruhkan kemalasannya, mencoba menyusul ilmu yang sudah lebih dulu bergerak di medan kehidupan. Manusia, laiknya sebuah benda, lalu mencoba menemui bentuk dirinya dalam realita keseharian. Mereka memulai hari membasuh diri dari sisa-sisa nasib kemarin, menopang semangat untuk tidak lebur dan legam dihantam angin kebodohan yang kejam. Angin yang menyebabkan intelektualitas yang dikumpulkan sejak lahir akan tenggelam dan karam. Apabila berhasil lolos, kerasnya perjuangan akan berujung pada sebuah tempat yang riuh rendah bernama pasar ilmu pengetahuan.

Saya memang sengaja mengistilahkan universitas, atau sekolah-sekolah lainnya, dengan nama pasar ilmu pengetahuan. Seperti hakikat sebuah pasar, ada permintaan dan penawaran yang bertemu di sana. Pasar ilmu pengetahuan, tak lain adalah tempat permintaan dan penawaran ilmu bertemu dalam sebuah kurva yang bergerak tidak teratur hingga menemukan sebuah titik stabil serupa titik impas. Di titik ini, baik pemberi ilmu ataupun penerima ilmu mendapatkan kepuasan optimal untuk mereguk apa-apa saja yang telah mereka sepakati.

« Read the rest of this entry »

Petang untuk Mary Jane Veloso

April 26, 2015 § Leave a comment

Petang untuk Mary Jane Veloso

Mary Jane adalah potret opresi kehidupan terhadap hidup. Mary Jane yang seorang bunda dari keluarga papa didakwa mengedarkan narkotika dengan barang bukti yang bukan merupakan miliknya. Ia dijebak dengan kopor yang sudah tertanam narkotika jenis heroin sebanyak 2,6 kg saat masuk ke Indonesia melalui Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Mary Jane pergi ke Indonesia pada tahun 2011 karena diimingi pekerjaan di sana. Sebelumnya Ia telah menyerahkan sebagian besar uangnya kepada seseorang, yang nantinya menjebaknya, sebagai pengganti biaya kepengurusan saat Ia melintas ke Malaysia. Tujuannya masih sama, mencari sesuap nasi.

Mary Jane bukannya tidak pernah bekerja. Ia sempat bekerja di Abu Dhabi, namun kabur kembali ke Filipina karena majikannya berusaha memperkosanya. Dengan status sebagai orang tua tunggal bagi kedua anaknya dan kesadaran bahwa uang tidak datang menyunggi dirinya sendiri, Mary Jane berikhtiar mencari kerja. Ia bekerja lintas negara, untuk melanjutkan hidup yang keras padanya dan kedua anaknya.

Setelah tertangkap, pengadilan di Indonesia memutar cepat roda persidangan. Enam bulan berlalu, hukuman mati dijatuhkan. Pemerintah Indonesia sedang melakukan Perang Badar terhadap Bandar. Dan Mary Jane, dipasung dengan pasal Bandar, bukan pengedar. Kendala bahasa membuat Mary Jane semakin papa di hadapan kata-kata yang dicecarkan padanya. Mary Jane tidak dapat membela dirinya sendiri. Apa daya, palu sudah diketuk.

Pemerintah Filipina mengusahakan proses Judicial Review yang menerus terhadap kasus Mary Jane. Ihwal proses persidangannya cacat karena Mary Jane tidak didampingi penerjemah yang layak dan tidak mendapat bantuan hukum yang cukup. Usaha Judicial Review perdana kandas ditolak Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tanggal 25 Maret 2015.

Mary Jane Veloso masih muda, 30 tahun usianya. Namun di hadapannya terhampar jurang-jurang yang hampir tak mampu ia lalui lagi. Hanya gelap di sana. Ayahnya hanya buruh tani musiman di musiman di Hacienda Luisita dengan upah sangat kecil. Mary Jane tercatat hanya menempuh sekolah hingga SMP kelas 1 sebelum dikawin dan lahir dua anak dari gua garbanya. Tidak ada uang yang bisa digelontorkan untuk mendapat hidup yang membaik, pun ahli hukum terbaik.

« Read the rest of this entry »

Kamera sebagai Koentji Kehidupan Remaja Tanggung

April 4, 2015 § Leave a comment

gambar diambil dari javireddy.wordpress.com

Di dunia di mana masalah eksistensi makin dirayakan dengan gegap gempita, persoalan membingkai kenangan dengan panca indera saja udah ndak cukup. Butuh sesuatu dari luar tubuh untuk mengabadikan apa yang telah dialami tubuh. Sebut saja namanya kamera: hasil kawin khilaf antara kotak plastik sama lensa.

Sekarang, kamera sudah menggeser tingkat kebutuhan yang pernah didefinisikan di buku pelajaran sekolah: primer, sekunder, tersier. Kamera menikung semuanya bak adventurer cinta yang tak pandang bulu dalam menyempurnakan hasrat mencintanya dan menahbiskan diri dalam kebutuhan jenis khusus: kebutuhan kontemporer dan pamer. Kalo ndak punya kamera, kamu ndak bisa ngeksis.

Kamera bukan hal yang jauh dari lingkungan sehari-hari. Harga kamera udah semakin murah dari hari ke hari, ndak semahal jaman Tustelnya Bu Ani Yudhoyono atau Kodak milik Yang Mulia Panembahan Bapak Saya. Bentuknya juga macem-macem, yang gemuk tebel tipe gajah hamil dan pake extension lensa sana sini atau yang nemplek sebagai kesatuan tak terpisahkan dari ponsel pintar.

Dedek-dedek unyu sebagai pewaris tahta kelas menengah kita adalah sekian banyak dari lebih banyak lagi pengguna kamera di Indonesia. Dibenamkannya kamera ke dalam ponsel pintar menyelesaikan dua kebutuhan muda-mudi: narsis dan eksis. We narsis therefore we exist.

Sekali mereka melakukan ibadah selfie, dua tiga komentar “ih cantik banget deh” terdapatkan. Komentar yang klise, namun terus berbalasan hingga negara api menyerang. Belum lagi jutaan like jika diunggah ke instagram. Fibonacci sepertinya harus bikin deret bilangan baru seperti deret bilangan like instagram atau deret bilangan love moment di Path.

Anak kandung dari gejala narsis bin eksis ini adalah dibawanya ponsel dengan kamera ke mana-mana. Setidaknya, dua dari tiga muda-mudi selalu nyangking ponsel jenis itu Ponsel menjadi prioritas yang sama kuatnya dengan dompet dan uang. Jangan heran kalau pacar kamu, teman kamu, atau pacar teman kamu*) yang kebetulan kamu ajak jalan minta puter balik begitu sadar ketinggalan ponsel. Kalo ketinggalan dompet sih gapapa, kan itu gunanya dompet sama uang kamu.

( keterangan: *) coret yang tidak perlu )

Objek dari kamera pun bermacam-macam. Ada senja nun rembang dan temaram seperti yang pernah dikirimkan Sukab ke Alina, ada menu makan malam istimewa sebelum disantap, ada potret diri sembari menggamit lengan kekasih mesra. Semua itu muaranya sama, merekam kenangan. Sebuah frase yang terlalu jauh untuk diulang, terlalu sayang jika dibuang.

Padahal, momentum pembuatan kenangan ndak perlu repot-repot pakai kamera. Kebersamaan dengan banyak bicara kan lebih membuat bahagia. Ngobrol itu seksi, cah. Semua panca indera kita jadi saling bertaut. Ide-ide bisa keluar secara langgeng bahkan mampu mengubah peradaban. Wallstreet lahir dari efek ngobrol-ngobrolnya orang di kedai kopi sana, lho.

Ironisnya, kemesraan malah lebih dapat tertangkap di beberapa foto yang diambil dibandingkan dengan kenyataannya. Foto dan caption-nya kadang menyajikan kemesraan yang diagung-agungkan. Padahal, pas ketemuan lebih banyak ngobrol formalitas, banyak diemnya dan asyik sama gajet masing-masing. Prek! Di situ kadang saya merasa ingin di dribel sama Duo Serigala.

Kamera juga menjadi saksi bagaimana seorang jomblo dapat meningkatkan status kemartabatannya. Jomblo kini tidak perlu merayakan kesepiannya sendiri. Lewat kamera, dia bisa membagi kesen(j)angan kisahnya ketika bertamasya atau bercengkrama dengan kemasygulannya alam. Lewat kamera, jomblo bisa merekam otentisitas kerisauannya dalam pakaian yang berwibawa.

Sudah banyak bukti jika jomblo itu bukan hal yang merisaukan selama ada kamera. Ia bisa menciptakan sebuah dunia di mana ia dan kamera menjadi pasangan yang saling melengkapi. Kamera, bahkan bisa menjadi senjata untuk mengakhiri dahaga cinta mereka. Sebuah fenomena yang lebih indah dari berakhirnya puasa gelar Arsenal musim lalu.

Foto diri, adalah kecohan sarana paling lazim untuk menaikkan label jomblo yang nggak laku menjadi lebih bersahaja. Cukup muka dilabur dengan keterampilan edit sesuai syariat tertentu, maka pujian akan berdatangan. Beberapa saat kemudian, label unyu sudah disandang.

Jika jomblo sudah dilabeli unyu, maka tingkat penawarannya akan semakin kuat. Premis kapitalistik lewat pasar persaingan jodoh sempurna ala Adam Smith bisa segera dimasuki dengan harapan imbal hasil yang lebih besar. Dengan status unyu, biarkan pasar menjalankan mekanismenya dan memberikan kepada mereka jodoh di titik ekuilibrium. Dengan prasyarat: tidak diganggu sama intervensi para penikung.

Coba hitung, sudah berapa banyak muda-mudi yang berhasil menemukan jodoh berkat kamera? Berkat foto dengan angle sudut tertentu yang membuat wajah lolos dari ketimpangan simetrikal? Ratusan? Ribuan? Hah? Hah?

Bagi orang yang mendapatkan jodoh dari media sosial, percayalah…yang dilihat pertama itu foto. Foto itu juru tafsir utama atas identitas kemolekan pribadi. Kamera adalah alat produksinya. Kamera adalah koentji, Bung!

Saya yakin, kamera berada pada daftar paling atas ucapan terima kasih jika kehidupan remaja tanggung masa kini dibukukan. Ia mengambil peran di setiap sisi kehidupan eksistensial mereka. Juara kelas, difoto. Putus cinta, difoto, Dapet Pacar, difoto. Diputusin habis pacaran sama juara kelas pas dia lagi dapet, difoto juga. Yah begitulah…..

Tanpa kamera, kita cuma ruang kosong yang nggak punya memori. Dengan kamera, memori bisa lumayan diabadikan. Itu pun kalo kita nggak milih membuangnya di keranjang samapah. Toh kadang beberapa memori memang sebaiknya dihapus. Seperti memori tentang cinta yang belum bersemi tapi sudah pupus. Hufffttt……

Akhirul kalam, pergunakan kameramu sebaik-baiknya. Jangan digunakan untuk merekam adegan kayak artis ME itu lho. Iya, itu yang nyanyi “Inikah Cinta”. Krik.